4 Gangguan Penderita Stroke dan Solusinya

Pertama Gangguan menelan
Kejadian gangguan menelan akibat stroke cukup banyak berkisar antara 30-65%. Sekitar 30% akan pulih dalam 2 minggu, sisanya akan pulih dalam bulan-bulan berikutnya. Gangguan menelan menempatkan pasien pada risiko aspirasi (masuknya benda asing ke saluran pernafasan) dan pneumonia (penyakit radang paru-paru), selain kekurangan cairan dan malnutrisi. Suara pasien yang serak basah perlu dicurigai adanya gangguan menelan. pasien tidak dapat menelan atau suara menjadi basah, maka makan dan minum melalui mulut harus dihentikan.

Kedua Gangguan berkemih
Gangguan berkemih yang terjadi pada pasien stroke umumnya air kemih tidak keluar tuntas, masih terdapat sisa dalam kandung kemih kurang dari 50-80 ml. Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi kandung kemih Sarankan pasien stroke untuk banyak bergerak aktif, berikan cukup cairan (sekitar 40 ml/kg BB ditambah 500 ml air/cairan bila tidak ada kontraindikasi), serta makan makanan berserat tinggi.

Ketiga Gangguan Berjalan
Terapi stroke dengan latihan berjalan dari satu tempat ke tempat lain perlu diberikan secara bertahap, dimulai dari kemampuan mempertahankan posisi duduk, keseimbangan berdiri kemudian latihan berjalan. Pastikan berat badan tertumpu juga pada tungkai sisi yang sakit. Latihan berjalan dapat dilakukan dengan berpegangan pada palang dari besi, kayu atau bambu yang dipasang sejajar, apabila jalan sudah cukup stabil pada palang, maka latihan jalan dapat dilanjutkan dengan memakai tongkat yang ujung bawahnya bercabang tiga. Untuk memperbaiki stabilitas jalan, tidak jarang diperlukan sepatu khusus.

Keempat Gangguan Melakukan Aktivitas Sehari-hari
Pasien yang telah kembali ke rumah seharusnya di motivasi untuk mengerjakan semampunya perawatan dirinya sendiri. Apabila sisi kanan yang terkena, pasien dapat diajarkan untuk menggunakan tangan kirinya semua aktivitas. Pastikan juga tangan yang sakit diikutsertakan dalam semua kegiatan. Semakin cepat dibiarkan melakukannya sendiri, semakin cepat pula pasien menjadi mandiri. Hanya aktivitas yang dapat menimbulkan risiko jatuh atau membahayakan pasien sendiri yang perlu ditolong oleh keluarga.